Danantara Dorong Penguatan Industri Pengolahan Mineral

Danantara Dorong Penguatan Industri Pengolahan Mineral
Direktur Utama Danantara Indonesia Rosan Roeslani. (Foto: NET)

JAKARTA - Direktur Utama Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengimbau segenap pelaku usaha untuk memperkokoh sektor pengolahan mineral demi mendorong Indonesia mendominasi rantai pasok global.

Berdasarkan penjelasan Rosan Roeslani di Jakarta pada Rabu, ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk berdaulat lewat ekspansi industri pengolahan mineral. 

Selama ini, keuntungan ekonomis dari komoditas mineral Indonesia justru lebih banyak dirasakan oleh negara lain lantaran proses pengolahan di dalam negeri umumnya mandek di fase ekstraksi saja.

"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan dan energi bersih," ujar Rosan dalam keterangannya.

"Namun, selama puluhan tahun kami terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat," lanjutnya.

Dalam agenda Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing, dilaksanakan pula peresmian nota kesepahaman terkait hilirisasi mineral kritis (critical minerals downstreaming) yang melibatkan PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero).

Kemitraan strategis tersebut dirancang guna memaksimalkan pasokan serta penyerapan (offtake) mineral kritis maupun material maju demi menyokong sektor industri vital di dalam negeri. 

Upaya hilirisasi ini tidak sekadar difokuskan bagi sektor transportasi listrik, melainkan turut menyasar bidang penerbangan, kelautan, produksi komponen dasar, keamanan negara, hingga infrastruktur kelistrikan.

Sementara itu, Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa memaparkan bahwa akselerasi industri material antara (middle stream) wajib diintegrasikan ke dalam peta jalan transformasi industri domestik. 

Langkah ini penting guna mewujudkan ekonomi berlandaskan teknologi, industri manufaktur yang memiliki nilai tambah tinggi, serta dominasi atas rantai pasokan global.

Indonesia dituntut sigap menangkap potensi pasar di tingkat regional, memperkuat kompetensi teknologi, sekaligus mendongkrak keunggulan kompetitif di kancah internasional demi menciptakan skala ekonomi yang konsisten.

"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kami mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan," jelas Sigit.

Oleh karena itu, Sigit menambahkan bahwa ekspansi industri material maju wajib dieksekusi secara lebih sinergis sebagai fondasi utama penopang daya saing industri tanah air.

"Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi dan kompetitif secara global," tutur Sigit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index