Potensi Penguatan IHSG Hari Ini Ditopang Deretan Saham Pilihan

Jumat, 18 September 2026 | 18:46:31 WIB
Investor mengamati data saham [FOTO: NET].

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (18/9/2026), diprediksikan memiliki ruang untuk bergerak menguat menguji level resistensi kisaran 6.541 sampai dengan 6.581, dengan sejumlah emiten unggulan seperti ADMR, BMRI, BRPT, serta DSSA masuk ke dalam radar pantauan analis.

Berdasarkan publikasi riset harian dari Tim Analis MNC Sekuritas, pergerakan indeks sebelumnya sempat mencatatkan apresiasi tipis sebesar 0,4 persen menuju posisi 6.462 pada penutupan perdagangan hari Kamis (17/9), yang turut diiringi oleh peningkatan volume aksi beli.

Kendati demikian, secara teknikal indikator pergerakan harga masih belum mampu menembus garis rata-rata pergerakan 20 periode (moving average 20).

"Secara teknikal, dalam skenario terburuk, IHSG diperkirakan masih berada pada bagian dari wave iv dari wave (c) pada label hitam, sehingga masih rawan menguji kembali area 6.290–6.370," kata MNC Sekuritas dalam riset harian, Jumat (18/9/2026).

Walaupun demikian, lanjut MNC Sekuritas, selama IHSG masih mampu bertahan di atas level 6.370, indeks masih memiliki peluang menguat menuju rentang 6.541–6.581.

Peta kekuatan teknikal harian menempatkan titik batas bawah (support) di level 6.279 dan 6.201, sementara batas atas (resistance) berada pada kisaran 6.585 hingga 6.633.

Dinamika pasar domestik turut diwarnai oleh respons investor terhadap kebijakan pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed), di mana kenaikan suku bunga acuan dinilai hanya menimbulkan dampak psikologis yang cenderung terbatas bagi pasar modal tanah air.

Dalam Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 15–16 September 2026, The Fed secara resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%–4,00%, menandai langkah kenaikan perdana sejak tahun 2023 dengan nada kebijakan yang lebih ketat (hawkish).

Investment Specialist Syailendra Capital Adrian Polisar menuturkan bahwa implikasi kenaikan suku bunga AS terhadap pasar finansial Indonesia relatif terkendali, terlihat dari pergerakan imbal hasil obligasi domestik yang tidak serta-merta terkerek naik secara signifikan di tengah stabilitas nilai tukar rupiah.

”Jika tekanan di pasar AS semakin besar, risiko pelemahan rupiah dan kenaikan risk premium EM akan meningkat. Namun, respons dan timing kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar dampak terhadap pasar Indonesia,” katanya dalam riset hariannya, Kamis (17/9/2026).

Senada dengan pandangan tersebut, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai bahwa penyesuaian suku bunga sebesar 25 bps telah sepenuhnya diantisipasi oleh para pelaku pasar (priced-in).

”Bagi IHSG, kenaikan 25 bps tersebut sebenarnya sudah priced-in, sehingga faktor penentu pada 17 September bukan lagi keputusan kenaikannya, melainkan forward guidance Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya,” katanya dalam riset harian, Kamis (17/9/2026).

Dari sudut pandang teknikal, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan bahwa perhatian investor kini mulai beralih memantau arah kebijakan lanjutan dari otoritas moneter global serta dampaknya terhadap aliran dana asing (foreign flow) dan ruang gerak Bank Indonesia.

Sementara itu, perwakilan analis dari Stockbit dan Bibit, yakni Edi Chandren bersama Idris Aryo, mengingatkan bahwa lonjakan indeks dolar AS (DXY) tetap memuat potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang dapat merembet pada beban pergerakan IHSG secara keseluruhan.

”Kami menilai kenaikan DXY berpotensi menekan nilai tukar rupiah, sehingga dapat membebani IHSG. Namun, mengingat bahwa multiple rate hikes sudah diekspektasikan sebelumnya, tekanan pada IHSG bisa saja relatif terbatas,” katanya, Kamis (17/9/2026).

Tags

Terkini