Utang Negara Maju Sentuh 110% PDB, Yield US Treasury Tembus 5%

Jumat, 18 September 2026 | 06:23:00 WIB

SUKSESFINANSIAL.ID — Beban utang negara-negara maju mendekati 110% dari produk domestik bruto, sementara imbal hasil obligasi terus melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun. Pemerintah kini harus membayar bunga jauh lebih mahal tepat ketika kebutuhan pendanaan mereka sedang membengkak.

Pasar obligasi negara maju menampilkan sinyal tekanan yang semakin nyata. Median yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di kelompok negara maju kini mendekati 4%, level tertinggi dalam lebih dari 15 tahun.

Angka itu hampir lima kali lipat dibandingkan rata-rata periode 2015-2021. Pemicunya adalah kombinasi utang yang menumpuk dan suku bunga yang kembali naik setelah bertahun-tahun berada di level rendah.

Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi Sejak 2007

Tekanan paling tajam terlihat di Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus 5% pada Senin (14/9/2026), level tertinggi sejak 2007.

Gelombang kenaikan tidak berhenti di AS. Yield obligasi pemerintah Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang bergerak naik dengan pola serupa.

Kenaikan yield memaksa pemerintah menawarkan bunga lebih besar agar investor mau menyerap obligasi mereka. Masalahnya, kebutuhan dana pemerintah justru sedang melonjak.

Rasio Utang Melonjak dari 70% ke 110% PDB

Rasio utang publik bruto negara maju kini mendekati 110% terhadap PDB. Pada awal 2000-an, rasio itu masih sekitar 70%.

Dalam periode yang sama, rasio utang AS naik lebih dari dua kali lipat. Utang Inggris bahkan hampir tiga kali lipat.

Defisit anggaran juga tetap lebar. AS diperkirakan mencatat defisit sekitar 6% terhadap PDB tahun ini, sementara defisit Prancis berada di atas 5%.

Kondisi diperparah setelah bank sentral kembali menaikkan suku bunga acuan. The Federal Reserve menaikkan Fed Funds Rate 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026), disusul langkah serupa oleh European Central Bank sepekan sebelumnya.

Beban Bunga Menggerus Anggaran Negara

Pembayaran bunga utang kini menghabiskan lebih dari 3% PDB negara-negara anggota OECD. Di AS, angkanya mendekati 5% PDB dan menjadi yang tertinggi di antara anggota G7.

Italia menyusul di bawahnya dengan beban bunga sekitar 4% PDB. Tagihan itu masih berpotensi membesar karena sebagian besar utang yang beredar diterbitkan saat suku bunga sangat rendah.

Saat obligasi lama jatuh tempo, pemerintah harus menggantinya dengan utang baru berbunga lebih mahal. Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan pembayaran bunga tahunan pemerintah AS bisa melonjak hampir tiga kali lipat menjadi US$2,7 triliun pada akhir dekade ini.

Jumlah itu lebih besar dibandingkan anggaran Medicare maupun Social Security. Pada 2007, median yield obligasi negara maju memang berada di sekitar level saat ini, tetapi obligasi yang diterbitkan pemerintah kala itu hanya sekitar 11% PDB.

Term Premium Naik, Keistimewaan US Treasury Memudar

Investor kini menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi jangka panjang. Tambahan imbal hasil itu dikenal sebagai term premium.

OECD memperkirakan rata-rata term premium pada akhir 2025 sudah naik lebih dari satu poin persentase dibandingkan level sebelum pandemi Covid-19. Kenaikannya berlanjut sepanjang 2026, dengan term premium AS diperkirakan mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Daya tarik khusus US Treasury juga mulai terkikis. Selama bertahun-tahun, investor bersedia menerima bunga lebih rendah karena obligasi AS dianggap sangat aman dan likuid, keuntungan yang dikenal sebagai convenience yield.

Analisis Lira Mota dari Massachusetts Institute of Technology yang diperbarui Hanno Lustig dari Stanford University menunjukkan convenience yield US Treasury hampir menghilang pada Juli 2026.

Hilangnya keistimewaan itu menandai pergeseran besar. Pemerintah tidak lagi bisa mengandalkan status aset safe haven untuk mendapatkan pinjaman murah, sementara tumpukan utang dan defisit justru terus membengkak.

Terkini