Rupiah Diprediksi Berfluktuasi Melemah di Kisaran Rp17.690-Rp17.750

Kamis, 17 September 2026 | 19:36:32 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Mata uang rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan versus dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Kamis (17/9/2026), dengan estimasi rentang pergerakan pada kisaran Rp17.690—Rp17.750 per dolar AS.

Catatan data TradingView memperlihatkan rupiah mengakhiri sesi perdagangan Rabu (16/9/2026) dengan terkoreksi 0,01% ke level Rp17.696 per dolar AS. Di zona Asia, rupiah bersama won Korea Selatan menjadi mata uang yang tergerus, yakni masing-masing turun 0,01% dan 0,23%. Sebaliknya, mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya mencatatkan penguatan. 

Baht Thailand terangkat 0,05%, ringgit Malaysia naik 0,25%, yuan China menguat 0,06%, rupee India bertambah 0,01%, serta peso Filipina terangkat 0,16%. Tren positif juga melingkupi dolar Taiwan sebesar 0,20%, dolar Hong Kong 0,01%, dan yen Jepang 0,06%.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa para pelaku pasar kini tengah menunggu penetapan suku bunga acuan oleh The Fed. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut bakal mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) hingga mencapai level 3,75%—4,00%. Atensi investor juga tertuju pada prospek proyeksi ekonomi dari The Fed beserta pandangan Kevin Warsh mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Sementara itu dari ranah domestik, Menteri Keuangan Suahasil Nazara dihadapkan pada tantangan untuk menyelaraskan antara dorongan akselerasi ekonomi dengan pemeliharaan disiplin dan kredibilitas tata kelola APBN.

“Komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk mempertahankan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia. Namun, kondisi global yang masih ditandai mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (16/9/2026).

Pada perkembangan lain, Bank Indonesia mencatat angka Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia berada pada kisaran US$453,4 miliar hingga periode Juli 2026. Angka ini mencatatkan pertumbuhan 4,9% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang terutama didorong oleh ekspansi utang luar negeri sektor publik di saat ULN sektor swasta mengalami penurunan.

Mengenai dinamika perdagangan Kamis (17/9/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif tetapi dengan tendensi melemah pada area Rp17.690—Rp17.750 per dolar AS.

“Sedangkan untuk perdagangan Kamis (17/9), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.690 - Rp.17.750,” katanya.

Tags

Terkini